UNAIR NEWS – Bermula dari Praktik Kuliah Lapangan (PKL) mahasiswa pada mata kuliah folklor (tradisi lisan, red) di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Departemen Sastra Indonesia UNAIR berupaya menggalakkan potensi kesenian dan beragam hasil alam serta kreativitas warga desa tersebut, untuk dikembangkan menjadi sebuah desa wisata. Hal pertama yang kini konsisten dilakukan oleh Departemen Sastra Indonesia UNAIR, yakni dengan mengikutsertakan mahasiswa kuliah lapangan di desa yang tak jauh dari Candi Penataran Blitar.

Dosen mata kuliah Folklor, Dr. Trisna Kumala Satya Dewi, M.S., mengungkapkan bahwa kajian folklor mulanya memang kurang begitu diminati mahasiswa, mengingat pemahaman yang masih kurang. Namun, di tahun ke empat ini, mahasiswa semakin memahami keilmuan yang tidak hanya memberikan wawasan mengenai seni budaya tapi juga potensi ekonomi.

“Alhamdulillah, sekarang pesertanya cukup banyak. Beberapa tahun yang lalu pesertanya sedikit karena kurang pemahaman dari mahasiswa tentang isi mata kuliah ini,” jelasnya.

Langkah untuk mewujudkan desa wisata di wilayah yang berada di kaki Gunung Kelud tersebut kini semakin menunjukkan hasilnya. Fendi Susilo, salah satu warga setempat yang juga pelopor pengembangan desa wisata mengungkapkan, desa yang kini tengah dikembangkan tersebut memiliki beragam potensi seperti melestarikan budaya mataraman yang syarat akan nilai dan filosofi. Selain itu, potensi alam seperti ikan koi nusantara dan gula jawa bisa menjadi daya tarik tersendiri.

“Syukur berkat kerja sama dengan UNAIR, desa kami mulai dilirik. Salah satunya, kami dapat bantuan biji kakau dari Uni Eropa. Bulan depan rencana pemerintah setempat juga akan meresmikan tugu batas desa wisata yang UNAIR bangun,” jelasnya.

Melengkapi pernyataan Fendi, Drs. Tubiyono, M.Si., selaku Dosen Sastra Indonesia UNAIR menjelaskan, desa wisata tersebut nantinya bisa menjadi laboratorium budaya bagi mahasiswa. Selain itu, dengan berkembangnya sektor lain seperti ikan koi, kakau, dan beragam hasil kreativitas masyarakat setempat, Tubiyono berharap nantinya beragam keilmuan di UNAIR juga bisa ikut serta mengembangkan desa tersebut.

“Ini kan kalau sudah bisa berkembang, kita bisa gandeng keilmuan yang lain. Misalnya dengan perikanan, biologi, juga  kesehatan masyarakat,” jelasnya. “Semua bisa  bermula dari FIB,” sambungnya.

Ditemui di lokasi yang berbeda, Kepala Departemen Sastra Indonesia, Dwi Handayani, M.Hum., menuturkan bahwa upaya pengembangan desa wisata tersebut akan disampaikan pada saat rapat dengan pimpinan, hal itu ditujukan agar institusi bisa memberikan perhatian ke depannya.

“Nantinya, pengembangan desa wisata ini juga akan saya presentasikan ke Jakarta untuk mewakili UNAIR pada ajang koordinator berprestasi se-Indonesia,” tutup salah satu Kepala Departemen berprestasi UNAIR tersebut.(*)

 

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Dilan Salsabila